Jumat, 31 Mei 2019

ANAK DIDIK SEBAGAI FAKTOR PENDIDIKAN


ANAK DIDIK SEBAGAI FAKTOR PENDIDIKAN
(Ragam Aliran Kemungkinan Pendidikan Bagi Anak)

Faizhal Dawam Rifqi Maulana
Institut Agama Islam Negeri Madura
E-mail : Faizhaldrm119@gmail.com

Abstrak
Anak didik dapat didefinisikan sebagai anak yang belum memiliki kedewasaan dan memerlukan orang lain untuk mendidiknya sehingga menjadi individu yang dewasa, memiliki jiwa spiritual, aktifitas dan kreatifitas sendiri. Terdapat beberapa aliran tentang pengaruh terhadap perkembanga anak didik, dimana dalam hal itu, pada umumnya mengemukakan satu faktor yang dominan tertentu saja, dan dengan demikian, sesuatu aliran pendidikan akan mengajukan gagasan untuk mengoptimalkan faktor tersebut dalam rangka mengembangkan manusia.

Kata Kunci : Anak Didik, Aliran Pendidikan

Pendahuluan
            Anak didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan, tanpanya proses pendidikan tidak akan terlaksana. Oleh karena itu pengertian tentang anak didik dirasa perlu diketahui dan dipahami secara mendalam oleh seluruh pihak. Sehingga dalam proses pendidikannya nanti tidak akan terjadi kemelencengan yang terlalu jauh dengan tujuan pendidikan yang direncanakan. Peserta didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengembangkan potensi yang dimilikinya serta membimbing menuju kedewasaan. Potensi merupakan suatu kemampuan dasar yang dimiliki peserta didik, dan tidak akan tumbuh atau berkembang secara optimal tanpa bimbingan pendidik. Beragam aliran telah menguraikan tentang gagasan faktor yang berpengaruh dalam perkembangan anak didik, tentang apa yang paling berpengaruh, siapa yang bisa memprngaruhi serta diuraikan juga mengenai cara seorang pendidik dalam mengembangkan anak didik.
Pembahasan
Faktor anak Didik[1]
            Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang, atau kelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedangkan dalam arti sempit anak didik ialah anak (pribadi yang belum dewasa) yeng diserahkan kepada tanggung jawab pendidik (barnadib, 1986:39). hal ini senada dikatakan oleh amir dain bahwa anak didik adalah pihak yang di didik, pihak yang diberi anjuran-anjuran, norma-norma dan berbagai macam pengetahuan dan keterampian, pihak yang dibentuk, pihak yang dihumanisasikan (Indra Kusuma, 1973:134).
            Karena itulah, anak didik memiliki beberpa karakteristik, diantaranya:
1.     Belum memiliki pribadi dewasa susila, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
2.     masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
3.     Sebagai manusia memiiki sifat-sifat dasar yang sedang ia kembangkan secara terpadu, menyangkut seperti kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegasi, emosi, kemampuan berbicara, perbedaan individual dan sebagainya (Meichati, 1976:26)
            Dalam proses pendidikan, kedudukan anak didik adalah sangat penting. Proses pendidikan tersebut akan berangsung di dalam situasi pendidikan yang di alaminya. Dan anak didik merupakan komponen yang hakiki.
            Anak didik sebagai manusia yang belum dewasa merasa tergantung kepada pendidiknya, anak didik merasa bahwa kemampuannya masih sangat terbatas dibandingkan dengan kemampuan pendidiknya. Kekurangan ini membawanya untuk mengadakan interaksi dengan pendidikanya dalam situasi pendidikan. Dalam situasi pendidikan itu terjadi interaksi kedewasaan dan ke belum dewasaan.
            Seseorang yang belum dewasa, pada dasarnya mengandung banyak sekali kemungkinan untuk berkembang, baik jasmani maupun rohani. Ia memiliki jasmani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran maupun perkembangan bagian-bagian lainnya. Sementara itu dari aspek rohaniyah anak mempunyai bakat-bakat yang masih perlu dikembangkan, mempunyai kehendak, perasaan dan pikiran yang belum matang.
            Sebenarnya ketergantungan anak didik terhadap pendidik hanya bersifat sementara, sebab pada suatu saat anak diharapkan mampu berdiri sendiri, dan dalam hal ini sedikit demi sedikit peran pendidik daam memberikan bantuan semakin berkurang sejalan dengan perkembangan anak  menuju kedewasaan. Bila dia sudah dewasa dan mampu berdiri sendiri, maka tidakah diperukan lagi bantuan si pendidik.
Aliran Klasik Perkembangan Anak Didik[2]
A.    Aliran Empirisme
            Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf inggris bernama John Locke (1704-1932) empirisme berasal dari bahasa latin. Asal katanya empiricus yang berarti pengalaman. Aliran ini dinamakan airan " Tabula-rasa". Artinya meja berapis lilin yang belum ada tuisan di atasnya. Dengan kata lain, seseorang dilahirkan seperti kertas kosong yang belum ditulisi maka pendidikilanah yang akan menulisnya. Perkembangan seseorang tergantung seratus persen pada pengaruh lingkungan atau pada pengalaman-pengalaman yang di peroleh dalam  kehidupannya. Oleh karena itu, aliran ini dinamakan aliran optimis pendidikan. Pengalaman empirik yang diperoleh dari llingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut plandangan empiris, pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

B.    Aliran Nativiesme
            Pelopornya adalah Schopenhauwer (1788-1880), fiosof kebangsaan jerman. Nativisme berasal dari bahasa latin. Asal kata nativus yang berarti terlahir. seseorang berkembang berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia ditentukan oleh pembawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu, manusia akan berkembang dengan pembawaan baik maupun pembawaan buruk yang dibawanya dari lahir. pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang tidak ada gunanya untuk perkembangannya. Oleh karea itu, aliran ini merupakan aliran pesimis dalam pendidikan.

C.    Aliran Naturalisme
            Naturalisme berasal dari bahasa latin. Asal katanya nature yang berarti alam, tabiat, dan pembawaanya. Naturalisme adalah aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang karena ia dilahirkan dengan pembawaan yang baik.
            Ciri utama aliran ini yakni dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain pembawaan yang baik supaya berkembang secara spontan (Idris, 1992:6).

D.    Aliran Konvergensi
            Perintis aliran ini adalah Willian Stern (1871-1939), seseorang ahli pendidikan bangsa jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan buruk. Asal katanya convergensi yang berarti pertemuan pada satu titik.Aliran ini memprtemukan atau mengawinkan dua aliran diatas yang berlawanan, yaitu aliran nativisme dan empirisme. Menurut aliran ini perkembangan seseorang tergantung pada pembawaan dan lingkungannya. Dengan kata lain, pembawaan dan lingkungan mempengaruhi seseorang. Pembawaan seseorang baru berkembang karena pengaruh lingkungan. Hendaknya para pendidik dapat menciptakan suatu lingkungan yang tepat dan cukup kaya atau beraneka ragam, agar pembawaan dapat berkembang semaksimal mungkin (Idris, 1992:8)

Kesimpulan
            Anak didik adalah individu yang memiliki potensi untuk berkembang, dan mereka berusaha mengembangkan potensinya itu melalui proses pendidikan pada jalur dan jenis pendidikan tertentu. Dalam perkembangan peserta didik ini, secara hakiki memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan peserta didik tumbuh dan berkembang mencapai kematangan pisik dan psikis. Perbedaan pandangan dalam aliran tersebut terletak pada pandangan tentang perkembangan manusia itu. Terdapat perbedaaan penekanan tentang faktor manakan yang paling dominan dalam perkembangan kepribadian. Teori Nativisme (Schopenhauer) Pertumbuhan dan perkembangan individu semata ditentukan oleh faktor pembawaan l,Teori Empirisme (John Locke) Permbangan manusia tergantung pengalaman, pembawaan tidak penting, dikenal dengan teori Tabula rasa, Teori Naturalisme (J.J. Rousseau) Anak lahir sudah memiliki potensi baik, jika menjadi jahat karena lingkungan, Teori Konvergensi (W. Sterm) Perkembangan manusia selain dipengaruhi pembawaan juga pengalaman.

Daftar Pustaka
Maunah Binti. 2009. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : Teras.
Ramli M. 2015. Hakilkat pendidik dan Peserta Didik. Jurnal Pendidikan 5(1).
Kosim Muhammad. 2013. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya : Pena Salsabila.
Suwarno wiji. 2017. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : Ar-ruzz Media.


[1] Binti Maunah. Ilmu Pendidikan. (Yogyakarta : Teras, 2009) hlm. 82-83
[2] Ibid, hlm. 120-127

PENDIDIKAN MASA DEPAN


PENDIDIKAN MASA DEPAN

Faizhal Dawam Rifqi Maulana
Institut Agama Islam Negeri Madura
E-mail : faizhaldrm119@gmail.com

Abstrak
Proses-pendidikan adalah mempersiapkan manusia untuk dapat hidup layak di masa depan, suatu masa yang tidak mesti sama bahkan cenderung berbeda dengan masa kini. Berkaitan dengan kurikulum, dimensi jangka panjang ini memberikan pemahaman bahwa suatu kurikulum harus merupakan jembatan bagi peserta didik untuk dapat mengantarkan dari kehidupan masa kini ke kehidupan masa depan. Peserta didik yang berada di bangku sekolah dewasa ini dipersiapkan untuk dapat hidup secara layak dan bermanfaat baik bagi diri, keluarga dan masyarakat.
Kata Kunci : Pendidikan Masa Depan
Pendahuluan
          Masa depan bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa dikemudian hari tergantung pada pendidikan yang dicapai anak-anaksekarang. Melalui pendidikan baik yang bersifat formal ataupun non formalanakdidik akan mengalami suatu proses perubahan dalam dirinya baik dalampengetahuan ataupun dalam kelakuan. Proses perubahan diri ini dinamakandengan belajar. Secara tradisional belajar dianggap sebagai tindakan atauperbuatan untuk menambah pengetahuan. Pendidikan adalah bantuan yangdiberikan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa, agar mencapaikedewasaan. Pendidikan di Indonesia sebagian besar dilaksanakan di lembaga-lembaga sekolah. Melalui lembaga sekolah ini para orang tua mempercayakananaknya untuk dapat dibantu dalam hal perkembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya menjadi lebih baik. Pendidikan sekolah berartiserangkaian kegiatan terencana dan terorganisasi, termasuk kegiatan dalamrangka proses belajar mengajar di dalam kelas, yang bertujuan untukmenghasilkan perubahan-perubahan positif di dalam diri anak yang sedangmenuju ke kedewasaan, sejauh berbagai perubahan itu dapat diusahakanmelalui usaha belajar.

Pembahasan
Pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan (menjadikan maju yaitu baik dan sempurna) atau pemerintah yang selalu berusaha dan pembangunan secara bertahap dan teratur yg menjurus ke sasaran yg dikehendaki. Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang ada pada masa kanak-kanak sampai remaja yang nantinya akan dibutuhkan pada saat kita dewasa nanti. (J.J. Rousseau). Menurut Juhn Dewey Pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan sosial.
Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI No.  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1). Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mendapatkan pengalaman dan mengembangkan potensi diri dengan proses pembelajaran sepanjang hidup. Masa Depan adalah gambaran tentang kehidupan kita pada beberapa kurun waktu ke depan.
Jadi Pengembangan Pendidikan Masa Depan adalah proses, cara, atau perbuatan untuk menjadi maju dalam proses pembelajaran yang dilakukan untuk kehidupan dikurun waktu yang akan datang.
            Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap masyarakat membutuhkan pendidikan, sampai kapanpun dan dimanapun ia berada. Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan    akan terbelakang yang berujung pada keterpurukan. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
            Prinsip penyelenggaraan pendidikan sebagai mana yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.[1] Dari prinsip diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan harus memperhatikan nilai kulturan, nilai keagamaan dan semua kompenen masyarakat tanpa adanya diskriminatif.
            Namun menurut pemakalah pendidikan yang perlu diterapkan di Indonesia selain mencangkup empat pilar yang canangkan UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together, learn how to learn dan learning troughout life.[2] Penyelenggaraan pendidikan yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional harus lebih mementingkan aspek moral. Penekanan terhadap moral dipandang perlu karena dengan sikap kreatif dan profesional saja bangsa ini akan hancur, hal ini dapat dilihat pada keterpurukan moral para wakil rakyat yang korupsi sampai trilyunan rupiah. Untuk mewujudkan pendidikan diatas pemerintah melalui pihak terkait harus lebih tegas dalam menangani terhadap penyimpanganl-penyimpangan yang ada, terutama terhadap pembiayaan pendidikan dan proses pendidikan baik mulai dari perencanaan, kegiatan pembelajaran, evaluasi dan tindak lanjutnya. Pemerintah juga berani menanggung biaya pendidikan minimal pendidikan wajib belajar dengan pemenuhan segala keperluan yang menunjang terhadap keberlangsungan proses pendidikan. Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya, sehingga antara pendidikan dan dunia kerja terjadi adanya kesesuaian kebutuhan yuang diperlukan. Dengan kemampuan sikap profesional, kreatif diharapkan dapat mengurangi pengangguran yang setiap tahunnya meningkat, dengan memiliki sikap/moral yang tinggi mampu untuk hidup bersama dan tolong menolong, bukan saling menggunakan keprofesionalannya untuk membodohi yang lebih bodoh, dan tentunya apabila program diatas berjalan secara baik dan benar mutu pendidikan semakin terus membaik.
            Pada zaman sekarang ini ada perubahan sosial yang berjalan begitu cepat namun ada juga yang berjalan dengan lamban, juga sangat berdampak pada pendidikan, misalnya dengan bertambahnya penduduk yang cepat maka perlu disediakan sekolah untuk menampung siswa tersebut, sehingga sarana pendidikanpun juga harus dibangun lebih banyak. Lalu dengan perkembangan zaman dan perubahan sosial itu pula kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan guna menghadapi kehidupan yang semakin kompleks, akan sangat memerlukan pendidikan guna mempersiapkan masyarakat itu sendiri dalam menghadapi perkembangan zaman itu.[3] Dampak lain dari terjadinya perubahan sosial terhadap pendidikan adalah dengan terus dikembangkannya kurikulum yang mampu menjawab tantangan perubahan, juga dampak pada perubahan sistem manajemen pendidikan yang berorientasi pada mutu (quality oriented), yaitu akan peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan menuju kepada pembelajaran unggul sehingga menghasilkan output yang berkualitas.[4]

Kesimpulan
            Pendidikan Masa Depan adalah proses, cara, atau perbuatan untuk menjadi maju dalam proses pembelajaran yang dilakukan untuk kehidupan dikurun waktu yang akan datang. terdapat empat pilar pendidikan masa depan UNESCO yaitu learning to know (Belajar untuk mengetahui), learning to do (Belajar untuk melakukan sesutau), learning to be (Belajar untuk menjadi seseorang) dan learning to live together (Belajar untuk hidup bersama). Dengan adanya pendidikan masa depan ini maka banyak terjadi perubahan sosial  terhadap pendidikan itu sendiri diantaranya ialah dengan terus dikembangkannya kurikulum yang mampu menjawab tantangan perubahan, juga dampak pada perubahan sistem manajemen pendidikan yang berorientasi pada mutu (quality oriented), yaitu akan peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan menuju kepada pembelajaran unggul sehingga menghasilkan output yang berkualitas.

Daftar Pustaka
Mastuhul. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21.Yogyakarta :             Safiria             Insania Press
Tirtosudarmo, Riwanto. 1994. Dinamika Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pemuda Di             Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia widiasarma Indonesia,
Syafaruddin dan Nasution Irwan. 2005. Manajemen Pembelajaran. Jakarta: Quantum             Teaching
Syamsidar. Dampak Perubahan Sosial Budaya Terhadap Pendidikan. Jurnal Bimbingan             Penyuluhan Islam Vol 2, No. 1


[1]UU No.20. Tahun 2005. Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 4, Ayat 1 dan 6
[2] Mastuhul. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Abad 21. (Yogyakarta : Safiria Insania Press) hlm. 132-135.
[3] Tirtosudarmo, Riwanto, Dinamika Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pemuda Di Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia widiasarma Indonesia, 1994), hlm. 21.
[4] Syafaruddin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm.13.

ANAK DIDIK SEBAGAI FAKTOR PENDIDIKAN

ANAK DIDIK SEBAGAI FAKTOR PENDIDIKAN (Ragam A l iran Kemungkinan Pendidikan Bagi Anak) Faizha l Dawam Rifqi Mau l ana Institut ...