ANAK DIDIK SEBAGAI FAKTOR PENDIDIKAN
(Ragam Aliran Kemungkinan Pendidikan Bagi Anak)
Faizhal Dawam Rifqi Maulana
Institut Agama Islam Negeri Madura
E-mail : Faizhaldrm119@gmail.com
Abstrak
Anak didik dapat didefinisikan sebagai anak yang belum
memiliki kedewasaan dan memerlukan orang lain untuk mendidiknya sehingga
menjadi individu yang dewasa, memiliki jiwa spiritual, aktifitas dan
kreatifitas sendiri. Terdapat beberapa aliran tentang pengaruh terhadap
perkembanga anak didik, dimana dalam hal itu, pada umumnya mengemukakan satu
faktor yang dominan tertentu saja, dan dengan demikian, sesuatu aliran
pendidikan akan mengajukan gagasan untuk mengoptimalkan faktor tersebut dalam
rangka mengembangkan manusia.
Kata Kunci : Anak
Didik, Aliran Pendidikan
Pendahuluan
Anak didik merupakan salah satu komponen
terpenting dalam pendidikan, tanpanya proses pendidikan tidak akan terlaksana.
Oleh karena itu pengertian tentang anak didik dirasa perlu diketahui dan
dipahami secara mendalam oleh seluruh pihak. Sehingga dalam proses pendidikannya
nanti tidak akan terjadi kemelencengan yang terlalu jauh dengan tujuan
pendidikan yang direncanakan. Peserta didik merupakan subjek dan objek
pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu
mengembangkan potensi yang dimilikinya serta membimbing menuju kedewasaan.
Potensi merupakan suatu kemampuan dasar yang dimiliki peserta didik, dan tidak akan
tumbuh atau berkembang secara optimal tanpa bimbingan pendidik. Beragam aliran
telah menguraikan tentang gagasan faktor yang berpengaruh dalam perkembangan
anak didik, tentang apa yang paling berpengaruh, siapa yang bisa memprngaruhi
serta diuraikan juga mengenai cara seorang pendidik dalam mengembangkan anak
didik.
Pembahasan
Faktor anak Didik[1]
Dalam
pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari
seseorang, atau kelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedangkan
dalam arti sempit anak didik ialah anak (pribadi yang belum dewasa) yeng
diserahkan kepada tanggung jawab pendidik (barnadib, 1986:39). hal ini senada
dikatakan oleh amir dain bahwa anak didik adalah pihak yang di didik, pihak
yang diberi anjuran-anjuran, norma-norma dan berbagai macam pengetahuan dan
keterampian, pihak yang dibentuk, pihak yang dihumanisasikan (Indra Kusuma,
1973:134).
Karena
itulah, anak didik memiliki beberpa karakteristik, diantaranya:
1. Belum memiliki pribadi dewasa susila, sehingga masih
menjadi tanggung jawab pendidik.
2. masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya,
sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
3. Sebagai manusia memiiki sifat-sifat dasar yang sedang ia
kembangkan secara terpadu, menyangkut seperti kebutuhan biologis, rohani, sosial,
intelegasi, emosi, kemampuan berbicara, perbedaan individual dan sebagainya
(Meichati, 1976:26)
Dalam
proses pendidikan, kedudukan anak didik adalah sangat
penting. Proses pendidikan tersebut akan berangsung di dalam situasi pendidikan
yang di alaminya. Dan anak didik merupakan komponen yang hakiki.
Anak
didik sebagai manusia yang belum dewasa merasa tergantung kepada pendidiknya,
anak didik merasa bahwa kemampuannya masih sangat terbatas dibandingkan dengan
kemampuan pendidiknya. Kekurangan ini membawanya untuk mengadakan interaksi
dengan pendidikanya dalam situasi pendidikan. Dalam situasi pendidikan itu
terjadi interaksi kedewasaan dan ke belum dewasaan.
Seseorang
yang belum dewasa, pada dasarnya mengandung banyak sekali kemungkinan untuk
berkembang, baik jasmani maupun rohani. Ia memiliki jasmani
yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran maupun perkembangan
bagian-bagian lainnya. Sementara itu dari aspek rohaniyah anak mempunyai
bakat-bakat yang masih perlu dikembangkan, mempunyai kehendak, perasaan dan
pikiran yang belum matang.
Sebenarnya
ketergantungan anak didik terhadap pendidik hanya bersifat sementara, sebab
pada suatu saat anak diharapkan mampu berdiri sendiri, dan dalam hal ini
sedikit demi sedikit peran pendidik daam memberikan bantuan semakin berkurang
sejalan dengan perkembangan anak menuju
kedewasaan. Bila dia sudah dewasa dan mampu berdiri sendiri, maka tidakah
diperukan lagi bantuan si pendidik.
Aliran Klasik Perkembangan Anak Didik[2]
A.
Aliran Empirisme
Tokoh
perintis pandangan ini adalah seorang filsuf inggris bernama John Locke
(1704-1932) empirisme berasal dari bahasa latin. Asal katanya empiricus yang
berarti pengalaman. Aliran ini dinamakan airan " Tabula-rasa".
Artinya meja berapis lilin yang belum ada tuisan di atasnya. Dengan kata lain, seseorang dilahirkan seperti kertas kosong yang belum ditulisi maka pendidikilanah yang akan menulisnya. Perkembangan seseorang tergantung seratus persen pada
pengaruh lingkungan atau pada pengalaman-pengalaman yang di peroleh dalam kehidupannya. Oleh karena itu, aliran ini dinamakan aliran optimis pendidikan. Pengalaman empirik yang
diperoleh dari llingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut
plandangan empiris, pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab
pendidik dapat menyediakan lingkungan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai
pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
B.
Aliran Nativiesme
Pelopornya
adalah Schopenhauwer (1788-1880), fiosof kebangsaan jerman. Nativisme berasal
dari bahasa latin. Asal kata nativus yang berarti terlahir. seseorang berkembang
berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia
ditentukan oleh pembawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu, manusia akan berkembang dengan
pembawaan baik maupun pembawaan buruk yang dibawanya dari lahir. pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Pendidikan yang
diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang tidak ada gunanya untuk
perkembangannya. Oleh karea itu, aliran ini merupakan aliran pesimis dalam pendidikan.
C.
Aliran Naturalisme
Naturalisme berasal dari bahasa latin. Asal katanya nature yang berarti alam, tabiat, dan pembawaanya. Naturalisme adalah aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang karena ia dilahirkan dengan pembawaan yang baik.
Ciri
utama aliran ini yakni dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain pembawaan yang baik supaya berkembang secara
spontan (Idris, 1992:6).
D.
Aliran Konvergensi
Perintis
aliran ini adalah Willian Stern (1871-1939), seseorang ahli pendidikan bangsa jerman yang berpendapat bahwa seorang
anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan buruk. Asal katanya convergensi yang berarti pertemuan pada
satu titik.Aliran ini memprtemukan atau mengawinkan dua aliran diatas yang berlawanan, yaitu aliran nativisme dan empirisme. Menurut aliran ini perkembangan seseorang tergantung pada
pembawaan dan lingkungannya. Dengan kata lain, pembawaan dan lingkungan mempengaruhi seseorang. Pembawaan seseorang baru
berkembang karena pengaruh lingkungan. Hendaknya para pendidik dapat menciptakan suatu lingkungan yang tepat dan cukup kaya atau beraneka
ragam, agar pembawaan dapat berkembang semaksimal mungkin (Idris, 1992:8)
Kesimpulan
Anak
didik adalah individu yang memiliki potensi untuk berkembang, dan mereka
berusaha mengembangkan potensinya itu melalui proses pendidikan pada jalur dan
jenis pendidikan tertentu. Dalam perkembangan peserta didik ini, secara hakiki
memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan peserta
didik tumbuh dan berkembang mencapai kematangan pisik dan psikis. Perbedaan
pandangan dalam aliran tersebut terletak pada pandangan tentang perkembangan
manusia itu. Terdapat perbedaaan penekanan tentang faktor manakan yang paling
dominan dalam perkembangan kepribadian. Teori Nativisme (Schopenhauer) Pertumbuhan dan perkembangan
individu semata ditentukan oleh faktor pembawaan l,Teori Empirisme (John Locke)
Permbangan manusia tergantung pengalaman, pembawaan tidak penting, dikenal
dengan teori Tabula rasa, Teori Naturalisme (J.J. Rousseau) Anak lahir sudah
memiliki potensi baik, jika menjadi jahat karena lingkungan, Teori Konvergensi
(W. Sterm) Perkembangan manusia selain dipengaruhi pembawaan juga pengalaman.
Daftar Pustaka
Maunah Binti. 2009. Ilmu
Pendidikan. Yogyakarta : Teras.
Ramli M. 2015. Hakilkat pendidik dan Peserta Didik.
Jurnal Pendidikan 5(1).
Kosim Muhammad. 2013. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya
: Pena Salsabila.
Suwarno wiji. 2017. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta
: Ar-ruzz Media.